Nadh’zblog


Aku, Mimpi, dan Guru
November 22, 2008, 8:49 pm
Filed under: Nyanyian Rumput

Depok, 21 November 2008

mengenang perjuangan bareng kak Rio dan kawan-kawan

Aku, Mimpi, dan Guru

Aku menoleh

setelah tinggi aku mendaki

gunung yang dahulu menyentuhnya pun, aku hanya mimpi

Lalu aku melihat siluet yang bergradasi

mengguratkan wajah yang menemaniku mengukir mimpi

di balik pelataran asa

menuju hari yang perkasa

puncak pendakian kami tinggi menjulang

begitu jauh dari jangkauan

kami akan terus berjalan

menggiring harapan ke hadap sebuah gerbang

tujuan

entah waktu akan terhenti di mana

entah sampai mana kekuatan ini Tuhan sertakan

Entah di belah mana bumi langkah kami akan merah tertatih

kini, di mata kami Cuma ada asa, mimpi, harap, cita, apapun orang menyebutnya

serta keberanian

kami tengok lagi hari yang libas dengan cepatnya

masih wajah yang sama

semangat dengan bara yang sewarna

yang membimbing jari-jari lemah

menemukan sebutir keberanian di tengah jiwa yang menggigil

yang mengajari aku cara menyemai seonggok kehidupan

Karena hidup yang sesungguhnya

dimekarkan oleh semerbak wewangian harap

naïf mungkin

tapi dasar sadarku memaknai semburat mimpi dengan pemaknaan yang agung

percaya aku pada kekuatan di balik tunas harapan

melebihi pengalaman sekian mil, aku berjalan

telah pernah aku buktikan

yang dulu kita kenali sebagai tantangan

kuatlah, beranikan jiwa yang rapuh

badai apapun akan mampu diri taklukkan

raga, pikir, rasa, segenap alam akan menopang

manakala benar tekad dipancangkan

rahasia yang terkubur ribuan tahun

dan hanya tergali beberapa kali

dan hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar ingin mewujudkan

onggokan mimpi, titian harapan

lihatlah apa yang sudah tumbuh di balik tumpuk jerami

di mana engkau wahai Guru

yang dengamu lah Tuhan membimbing aku

mengais cinta di keringnya setapak dan alang

cinta akan perjuangan

juga penerimaan atas takdir yang hanya dipasrahkan setelah kaki letih melangkah

tak ada istirahat dalam perang

dan nyata bahwa hidup adalah perang yang tak kunjung usai

dan engkau mengajakku memandang dari atas

keseluruhan untuk dipecahkan

bukan sekelumit untuk dirisaukan

aku belajar bernapas dalam sesak

engkau ajar kami mengembangkan paru dengan sehat

kami belajar meletakkan asa di panggung dunia

engkau berdiri di belakang kami

mengatakan, satu hari, di panggung tempat kami letakkan cuilan asa

akan tertoreh tinta emas sejarah yang tak terbantah

saat itu begitu abstrak untuk diungkap dengan kata kami yang terbatas

bilangan waktu pun habis untuk mengenang

asa yang kami simpan belum jadi sejarah

namun, tunas yang engkau semai

kini terus tumbuh bercabang-ranting

abaikan hambat, menjajal jadi besar

kamilah, yang di sini menerobos tanah dengan berani

meski akar kami lemah

kamilah tunas itu wahai guru pelajaran mimpi

ingatkah engkau?

ingatlah, karena kini kami berkembang menjadi sangat indah


No Comments Yet so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>