Filed under: Nyanyian Rumput
Depok, 21 November 2008
mengenang perjuangan bareng kak Rio dan kawan-kawan
Aku, Mimpi, dan Guru
Aku menoleh
setelah tinggi aku mendaki
gunung yang dahulu menyentuhnya pun, aku hanya mimpi
Lalu aku melihat siluet yang bergradasi
mengguratkan wajah yang menemaniku mengukir mimpi
di balik pelataran asa
menuju hari yang perkasa
puncak pendakian kami tinggi menjulang
begitu jauh dari jangkauan
kami akan terus berjalan
menggiring harapan ke hadap sebuah gerbang
tujuan
entah waktu akan terhenti di mana
entah sampai mana kekuatan ini Tuhan sertakan
Entah di belah mana bumi langkah kami akan merah tertatih
kini, di mata kami Cuma ada asa, mimpi, harap, cita, apapun orang menyebutnya
serta keberanian
kami tengok lagi hari yang libas dengan cepatnya
masih wajah yang sama
semangat dengan bara yang sewarna
yang membimbing jari-jari lemah
menemukan sebutir keberanian di tengah jiwa yang menggigil
yang mengajari aku cara menyemai seonggok kehidupan
Karena hidup yang sesungguhnya
dimekarkan oleh semerbak wewangian harap
naïf mungkin
tapi dasar sadarku memaknai semburat mimpi dengan pemaknaan yang agung
percaya aku pada kekuatan di balik tunas harapan
melebihi pengalaman sekian mil, aku berjalan
telah pernah aku buktikan
yang dulu kita kenali sebagai tantangan
kuatlah, beranikan jiwa yang rapuh
badai apapun akan mampu diri taklukkan
raga, pikir, rasa, segenap alam akan menopang
manakala benar tekad dipancangkan
rahasia yang terkubur ribuan tahun
dan hanya tergali beberapa kali
dan hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar ingin mewujudkan
onggokan mimpi, titian harapan
lihatlah apa yang sudah tumbuh di balik tumpuk jerami
di mana engkau wahai Guru
yang dengamu lah Tuhan membimbing aku
mengais cinta di keringnya setapak dan alang
cinta akan perjuangan
juga penerimaan atas takdir yang hanya dipasrahkan setelah kaki letih melangkah
tak ada istirahat dalam perang
dan nyata bahwa hidup adalah perang yang tak kunjung usai
dan engkau mengajakku memandang dari atas
keseluruhan untuk dipecahkan
bukan sekelumit untuk dirisaukan
aku belajar bernapas dalam sesak
engkau ajar kami mengembangkan paru dengan sehat
kami belajar meletakkan asa di panggung dunia
engkau berdiri di belakang kami
mengatakan, satu hari, di panggung tempat kami letakkan cuilan asa
akan tertoreh tinta emas sejarah yang tak terbantah
saat itu begitu abstrak untuk diungkap dengan kata kami yang terbatas
bilangan waktu pun habis untuk mengenang
asa yang kami simpan belum jadi sejarah
namun, tunas yang engkau semai
kini terus tumbuh bercabang-ranting
abaikan hambat, menjajal jadi besar
kamilah, yang di sini menerobos tanah dengan berani
meski akar kami lemah
kamilah tunas itu wahai guru pelajaran mimpi
ingatkah engkau?
ingatlah, karena kini kami berkembang menjadi sangat indah
No Comments Yet so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>