Nadh’zblog


Tentang Pudil…
November 22, 2008, 9:02 pm
Filed under: Nyanyian Rumput

Bismillahirrahmaanirrahiim…..

Sabtu, 15 November 2008

Sedih. itu yang nggun rasa sekarang Allah… inget sama blog yang kosong. jadi pingin ngejadiin curhatan kucing ini ssbg postingan pertama di rumahrakyat. Allah lebih kenal nggun daripada diri nggun sendiri. tentang kesra, lama-lama nggun ngerasa mungkin memang ini tempat yang cocok untuk perangai nggun yang idealis dan negosiabel.

nggun nggak pernah nggubris kalo ad aide berantas kucing. karena dari dulu itu Cuma wacana. tapi hari ini dengan prakarsa forkat 08_calon, kesra pula yang memang sudah sepantasnya melakukan ini dari dulu, merelokasi kucing2 kesayangan nggun keluar asrama. awlanya mau ke hutan deket pasming, tapi Alhamdulillah yang bawa nggak kuat, jadilah ditaro di hutan belakang pus pusat ui.

pudil Allah. kucing nggun yang amat nurut, nggak rese, diam, gemuk, berwarna kuning putih terang dan gempal. kucing pertama nggun yang bener2 nggun sayang. yang kapan waktu nggun pulang, pudil lari dari ujung lorong jemputin nggun. nggun masih inget momen itu Allah. pudil yang kepingin banget masuk kamar nggun. pudil yang hari2 terakhirnya di sini nggak bisa nggun temenin. bahkan nggun baru sempet mandiin pudil dua kali selama ini. pudil udah nggak di sini sekarang Allah.

nggun jarang kasih pudil makan. tapi di asrama meski sering berantem pudil punya stok makan yang lebih dari cukup. di pus pusat, paling lari ke kantin fasilkom ama fib. Allah,,, plisss,,,, kasih makan pudil manakala ia lapar, selimuti ia dengan hangat yang hanya bisa diwakili kata cinta, dengan cintaMu. teduhkan awan baginya, jauhkan ia dari dingin dan basah seandainya Kau ketahui itu menyulitkannya.

terima kasih untuk pinjaman selama ini. Allah begitu baik menghadiahkan pudil di tengah sesko yang padat dan p3a yang mendesak. ada pudil tidur di keset depan kamar ku dan dila. terus menghilang berapa hari begitu aku kembali ke kamarku. pudil yang terus menunggu, meski aku jarang pulang. pudil yang kemudian tak menemukanku ada, pergi, berjalan, ditemukan, ditangkap, dan dipindahkan, tanpa sempat aku mandikan.

Allah itu kucing nggun yang paling bagus, paling nurut, dan paling nggun sayang. dia memang nggak lincah, tapi dia gemuk, dia adalah komoditas kebanggaan tiap kali temen2 ke kamar. kucing yang nggak kabur kalo nggak nggun kasih makan. pudil punya banyak makan di sini.

Allah, bolehkah aku ke surge. permintaanku saat ini andai nanti Kau beri aku tempat di surga, aku ingin pudil menjadi penjaga kamarku. menemaniku tanpa aku perlu khawatir kena toksoplasma atau najis. pudil belum pernah tidur di atas selimutku. tapi dia selalu, dengan begitu setianya, menggaruk2 kusen pintuku, rindu masuk, mencicipi kasurku. aku rindu pudilku. Allah jagalah pudil jika bagiMu ia baik. tanganku tak lagi mampu menjangkaunya. mungkin sebentar lagi pikiran ini beralih darinya. maka sekarang, di kala ku masih mengenangnya dalam ingatku, kumohon pada Engkau yang melindungi hamba yang beruntung mengenalMu, lindungi ia juga. temani ia, temani mereka, kami manusia Cuma berusaha membuka peluang kemanfaatan yang sebesar2nya. aku belajar untuk rela. meninggalkan apa yang aku cinta. karena semua memang fana. pasti terpisah, lindungi kami ya Allah. yang betemu dan berpisah karenaMu. karena kami harus berjuang demi rakyat asrama. menembus kabut dilematis yang bertahta di kedalaman hati kami. kami berserah kepada Engkau. tetapkanlah kesabaran dalam hati kami. beri kami ruang untuk terus bersyukur. dan ajarilah kami untuk terus memilih jalan yang Allah cinta, bukan kami cinta.



Aku, Mimpi, dan Guru
November 22, 2008, 8:49 pm
Filed under: Nyanyian Rumput

Depok, 21 November 2008

mengenang perjuangan bareng kak Rio dan kawan-kawan

Aku, Mimpi, dan Guru

Aku menoleh

setelah tinggi aku mendaki

gunung yang dahulu menyentuhnya pun, aku hanya mimpi

Lalu aku melihat siluet yang bergradasi

mengguratkan wajah yang menemaniku mengukir mimpi

di balik pelataran asa

menuju hari yang perkasa

puncak pendakian kami tinggi menjulang

begitu jauh dari jangkauan

kami akan terus berjalan

menggiring harapan ke hadap sebuah gerbang

tujuan

entah waktu akan terhenti di mana

entah sampai mana kekuatan ini Tuhan sertakan

Entah di belah mana bumi langkah kami akan merah tertatih

kini, di mata kami Cuma ada asa, mimpi, harap, cita, apapun orang menyebutnya

serta keberanian

kami tengok lagi hari yang libas dengan cepatnya

masih wajah yang sama

semangat dengan bara yang sewarna

yang membimbing jari-jari lemah

menemukan sebutir keberanian di tengah jiwa yang menggigil

yang mengajari aku cara menyemai seonggok kehidupan

Karena hidup yang sesungguhnya

dimekarkan oleh semerbak wewangian harap

naïf mungkin

tapi dasar sadarku memaknai semburat mimpi dengan pemaknaan yang agung

percaya aku pada kekuatan di balik tunas harapan

melebihi pengalaman sekian mil, aku berjalan

telah pernah aku buktikan

yang dulu kita kenali sebagai tantangan

kuatlah, beranikan jiwa yang rapuh

badai apapun akan mampu diri taklukkan

raga, pikir, rasa, segenap alam akan menopang

manakala benar tekad dipancangkan

rahasia yang terkubur ribuan tahun

dan hanya tergali beberapa kali

dan hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar ingin mewujudkan

onggokan mimpi, titian harapan

lihatlah apa yang sudah tumbuh di balik tumpuk jerami

di mana engkau wahai Guru

yang dengamu lah Tuhan membimbing aku

mengais cinta di keringnya setapak dan alang

cinta akan perjuangan

juga penerimaan atas takdir yang hanya dipasrahkan setelah kaki letih melangkah

tak ada istirahat dalam perang

dan nyata bahwa hidup adalah perang yang tak kunjung usai

dan engkau mengajakku memandang dari atas

keseluruhan untuk dipecahkan

bukan sekelumit untuk dirisaukan

aku belajar bernapas dalam sesak

engkau ajar kami mengembangkan paru dengan sehat

kami belajar meletakkan asa di panggung dunia

engkau berdiri di belakang kami

mengatakan, satu hari, di panggung tempat kami letakkan cuilan asa

akan tertoreh tinta emas sejarah yang tak terbantah

saat itu begitu abstrak untuk diungkap dengan kata kami yang terbatas

bilangan waktu pun habis untuk mengenang

asa yang kami simpan belum jadi sejarah

namun, tunas yang engkau semai

kini terus tumbuh bercabang-ranting

abaikan hambat, menjajal jadi besar

kamilah, yang di sini menerobos tanah dengan berani

meski akar kami lemah

kamilah tunas itu wahai guru pelajaran mimpi

ingatkah engkau?

ingatlah, karena kini kami berkembang menjadi sangat indah