Filed under: Nyanyian Rumput
Bismillahirrahmaanirrahiim…..
Sabtu, 15 November 2008
Sedih. itu yang nggun rasa sekarang Allah… inget sama blog yang kosong. jadi pingin ngejadiin curhatan kucing ini ssbg postingan pertama di rumahrakyat. Allah lebih kenal nggun daripada diri nggun sendiri. tentang kesra, lama-lama nggun ngerasa mungkin memang ini tempat yang cocok untuk perangai nggun yang idealis dan negosiabel.
nggun nggak pernah nggubris kalo ad aide berantas kucing. karena dari dulu itu Cuma wacana. tapi hari ini dengan prakarsa forkat 08_calon, kesra pula yang memang sudah sepantasnya melakukan ini dari dulu, merelokasi kucing2 kesayangan nggun keluar asrama. awlanya mau ke hutan deket pasming, tapi Alhamdulillah yang bawa nggak kuat, jadilah ditaro di hutan belakang pus pusat ui.
pudil Allah. kucing nggun yang amat nurut, nggak rese, diam, gemuk, berwarna kuning putih terang dan gempal. kucing pertama nggun yang bener2 nggun sayang. yang kapan waktu nggun pulang, pudil lari dari ujung lorong jemputin nggun. nggun masih inget momen itu Allah. pudil yang kepingin banget masuk kamar nggun. pudil yang hari2 terakhirnya di sini nggak bisa nggun temenin. bahkan nggun baru sempet mandiin pudil dua kali selama ini. pudil udah nggak di sini sekarang Allah.
nggun jarang kasih pudil makan. tapi di asrama meski sering berantem pudil punya stok makan yang lebih dari cukup. di pus pusat, paling lari ke kantin fasilkom ama fib. Allah,,, plisss,,,, kasih makan pudil manakala ia lapar, selimuti ia dengan hangat yang hanya bisa diwakili kata cinta, dengan cintaMu. teduhkan awan baginya, jauhkan ia dari dingin dan basah seandainya Kau ketahui itu menyulitkannya.
terima kasih untuk pinjaman selama ini. Allah begitu baik menghadiahkan pudil di tengah sesko yang padat dan p3a yang mendesak. ada pudil tidur di keset depan kamar ku dan dila. terus menghilang berapa hari begitu aku kembali ke kamarku. pudil yang terus menunggu, meski aku jarang pulang. pudil yang kemudian tak menemukanku ada, pergi, berjalan, ditemukan, ditangkap, dan dipindahkan, tanpa sempat aku mandikan.
Allah itu kucing nggun yang paling bagus, paling nurut, dan paling nggun sayang. dia memang nggak lincah, tapi dia gemuk, dia adalah komoditas kebanggaan tiap kali temen2 ke kamar. kucing yang nggak kabur kalo nggak nggun kasih makan. pudil punya banyak makan di sini.
Allah, bolehkah aku ke surge. permintaanku saat ini andai nanti Kau beri aku tempat di surga, aku ingin pudil menjadi penjaga kamarku. menemaniku tanpa aku perlu khawatir kena toksoplasma atau najis. pudil belum pernah tidur di atas selimutku. tapi dia selalu, dengan begitu setianya, menggaruk2 kusen pintuku, rindu masuk, mencicipi kasurku. aku rindu pudilku. Allah jagalah pudil jika bagiMu ia baik. tanganku tak lagi mampu menjangkaunya. mungkin sebentar lagi pikiran ini beralih darinya. maka sekarang, di kala ku masih mengenangnya dalam ingatku, kumohon pada Engkau yang melindungi hamba yang beruntung mengenalMu, lindungi ia juga. temani ia, temani mereka, kami manusia Cuma berusaha membuka peluang kemanfaatan yang sebesar2nya. aku belajar untuk rela. meninggalkan apa yang aku cinta. karena semua memang fana. pasti terpisah, lindungi kami ya Allah. yang betemu dan berpisah karenaMu. karena kami harus berjuang demi rakyat asrama. menembus kabut dilematis yang bertahta di kedalaman hati kami. kami berserah kepada Engkau. tetapkanlah kesabaran dalam hati kami. beri kami ruang untuk terus bersyukur. dan ajarilah kami untuk terus memilih jalan yang Allah cinta, bukan kami cinta.
Filed under: Nyanyian Rumput
Depok, 21 November 2008
mengenang perjuangan bareng kak Rio dan kawan-kawan
Aku, Mimpi, dan Guru
Aku menoleh
setelah tinggi aku mendaki
gunung yang dahulu menyentuhnya pun, aku hanya mimpi
Lalu aku melihat siluet yang bergradasi
mengguratkan wajah yang menemaniku mengukir mimpi
di balik pelataran asa
menuju hari yang perkasa
puncak pendakian kami tinggi menjulang
begitu jauh dari jangkauan
kami akan terus berjalan
menggiring harapan ke hadap sebuah gerbang
tujuan
entah waktu akan terhenti di mana
entah sampai mana kekuatan ini Tuhan sertakan
Entah di belah mana bumi langkah kami akan merah tertatih
kini, di mata kami Cuma ada asa, mimpi, harap, cita, apapun orang menyebutnya
serta keberanian
kami tengok lagi hari yang libas dengan cepatnya
masih wajah yang sama
semangat dengan bara yang sewarna
yang membimbing jari-jari lemah
menemukan sebutir keberanian di tengah jiwa yang menggigil
yang mengajari aku cara menyemai seonggok kehidupan
Karena hidup yang sesungguhnya
dimekarkan oleh semerbak wewangian harap
naïf mungkin
tapi dasar sadarku memaknai semburat mimpi dengan pemaknaan yang agung
percaya aku pada kekuatan di balik tunas harapan
melebihi pengalaman sekian mil, aku berjalan
telah pernah aku buktikan
yang dulu kita kenali sebagai tantangan
kuatlah, beranikan jiwa yang rapuh
badai apapun akan mampu diri taklukkan
raga, pikir, rasa, segenap alam akan menopang
manakala benar tekad dipancangkan
rahasia yang terkubur ribuan tahun
dan hanya tergali beberapa kali
dan hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar ingin mewujudkan
onggokan mimpi, titian harapan
lihatlah apa yang sudah tumbuh di balik tumpuk jerami
di mana engkau wahai Guru
yang dengamu lah Tuhan membimbing aku
mengais cinta di keringnya setapak dan alang
cinta akan perjuangan
juga penerimaan atas takdir yang hanya dipasrahkan setelah kaki letih melangkah
tak ada istirahat dalam perang
dan nyata bahwa hidup adalah perang yang tak kunjung usai
dan engkau mengajakku memandang dari atas
keseluruhan untuk dipecahkan
bukan sekelumit untuk dirisaukan
aku belajar bernapas dalam sesak
engkau ajar kami mengembangkan paru dengan sehat
kami belajar meletakkan asa di panggung dunia
engkau berdiri di belakang kami
mengatakan, satu hari, di panggung tempat kami letakkan cuilan asa
akan tertoreh tinta emas sejarah yang tak terbantah
saat itu begitu abstrak untuk diungkap dengan kata kami yang terbatas
bilangan waktu pun habis untuk mengenang
asa yang kami simpan belum jadi sejarah
namun, tunas yang engkau semai
kini terus tumbuh bercabang-ranting
abaikan hambat, menjajal jadi besar
kamilah, yang di sini menerobos tanah dengan berani
meski akar kami lemah
kamilah tunas itu wahai guru pelajaran mimpi
ingatkah engkau?
ingatlah, karena kini kami berkembang menjadi sangat indah