Nadh’zblog


Nadh’z
December 16, 2008, 5:11 pm
Filed under: Kesehatan, Psikologi, Religi

Aku menamai diriku Nadhiar Alfikra. Sebuah samaran dari nama asli yang tidak kalah indah artinya. Hanya saja yang ini lebih pendek, dinamis, misterius, dan kuat. Itu aku. Warna dasarku adalah putih, karena kejujuran adalah asas pertama yang selalu ingin aku genggam. Lalu tumpahlah cat berwarna-warni. Pendarannya menghadiahiku gradasi dan kompleksitas warna yang overlap, kadang. Kadang cerah, kadang gelap, kadang kabur, kadang cemerlang.

Langkah kakiku menjadi mantap di atas kanvas yang telah dahulu kupulas merah. Memberanikan diri untuk mengejar sesuatu yang lebih. Yang belum pernah aku alami, belum aku temui, tanah yang masih perawan, belum terjejak oleh kakiku yang rentan.

Nadiku masih penuh dengan gelora. Tak ayal maka, manakala lidahku mengungkap bahasa, kalian temui bara di sana. Membakar, bergelora.

Pikiranku berkeliaran dengan liarnya. Pada sudut yang tak terjangkau oleh tangan ini. Menjalari tiap jengkal tembok gunung es di tengah samudera, menyentuh sesuatu yang tidak mampu aku definisikan dengan bahasaku yang minim terminologi.

Aku cinta biru, merah, putih, abu2, hitam, cokelat, dan semua warna yang ada. Mulai dari yang bertitel dark hingga yang terkenal dengan light. Aku menghargai perbedaan, karena aku percaya, perbedaan itu sunnatullah. Sesuatu yang dengan bangga aku lukiskan dengan satu tag line, Unity in Diversity.

“The soul would have no rainbow, if the eyes had no tears.”

Pepatah Indian yang begitu dalam menyesaki tiap rongga tubuhku, yang menyetujuinya dalam satu anggukan. Pernahkah terpikirkan betapa sehat itu indah jika belum pernah raga ini menjajal luka, merasai sakit, mengiris kecewa dengan sembilu yang menikam mata, menjatuhkan tetes demi tetes. Yang kita kenal dengan tangis. Seandainya manusia hanya kenal satu dimensi waktu, sekarang, mana mungkin tercantum di kamus kita, kata ‘evaluasi’, merenung mencari apa yang salah dan melalui mana kita mampu mengadakan perbaikan.

Tidak akan sama penghayatan seorang pemimpin yang besar dalam buaian tahta kemilauan, dengan anak negeri yang besar dalam dinginnya malam. Yang mimpinya nyaman berselimutkan harapan mentari esok bersinar terang. Tidak akan sama penghayatan seorang pemimpin yang merancang visi berdasarkan egoisme dan asa pribadi, dengan pemimpin yang melahirkan visi dari rahim kepekaan akan apa yang rakyatnya jeritkan setiap helaan, yang mengeja misi yang dengannyalah rakyat berbicara kelak, suara yang selama ini dibungkam. Ditutup dengan todongan ancaman, dengan tudingan kegalauan. Tidak akan pernah sama.

Dunia ini cermin bagi siapa yang ingin melihat kejernihan ciptaan. Coba renungkan, kepedulian apa yang hendak disuarakan dari dapur rekaman kampanye, jika seumur hidup menjejak di pemukiman kumuh rakyatnya saja ia tidak berani. Banyak cacing katanya.

Melebar, ciri khas seorang ‘aku’ tiap kali bicara….

Banyak orang seumuranku saat itu memupuk citanya menjadi dokter. Kelas 4 SD, aku bilang, aku ingin jadi politikus. Ketika semua ingin jadi kaya, aku ingin melihat dunia yang belum kujamah dengan pandangku, aku ingin jadi astronot, menelusur jejak benturan bintang. Masih berkutat dengan mimpi mereka menjadi dokter, menyusul satu dua varian, menjadi apoteker. Aku lagi-lagi memikirkan hal lain, menjadi entrepreneur dengan banyak anak perusahaan yang menggerakkan roda perekonomian_yang nota bene carut marut karena krisis saat itu, dan membuka lapangan kerja hingga banyak orang bisa makan dengan layak. Kembali aku menjajal batas imajinasiku, aku menghitung kemungkinan menjadi developer. Yang aku pikirkan bukan nilai proyek. Tapi aku ingin mengerjakan proyek yang aku rancang dan aku danai dengan keringatkui sendiri. Memimpikan sebuah pemukiman muslim, yang sarat fasilitas ramah lingkungan, yang tata letaknya memungkinkan interaksi sosial yang intens, dengan sungai jernih mengalir diantaranya. Banyak anak sungai, bukan satu.

Pemukiman yang tanpa sampah, yang selalu punya pengetahuan lebih untuk dibagi antar penghuninya. Di mana adzan berkumandang dengan sejuk, buah yang ranum,ditanam oleh dan untuk umat. Di mana bisnis bebas riba dan kapitalisasi berkembang dengan pesat. Dapur mengepul di setiap rumah, jikapun pergi ke restoran atau rumah makan, sajiannya dipastikan halal dan bergizi. Sebuah lingkungan yang tidak kenal istilah junk food, kecuali dari tontonan media dan mulut orang2. Darah yang bebas polusi, dengan lapangan parkir di ujung gerbang terluar “Kampung Muslim”_nama pemukiman ini, sudak kurancang sejak SMA. Hanya pejalan kaki dan sepeda yang bebas berkeliaran di lingkungan dalam.

Tempat yang subur untuk menyemai kreativitas. Karena di Kampung Muslim setiap orang berhak menjual karyanya. Daur ulang menjadi tren. Sampah organik menjadi pupuk, setiap orang gemar menanam pohon kebaikan. Ada taman dengan rumput di tiap pelataran rumah, tempat bocah2 duduk, membaca dan mengenali dunia dari pintunya yang paling istimewa, buku.

Ahhh… sungguh, jamuan mimpi yang membuatku betah berlama-lama mengkhayal.

Beranjak lagi usia, aku tertarik pada profesi jurnalis. Independen, bebas bersuara, mengokohkan idealisme. Tapi satu kalimat menyadarkanku dari lamunan, bahwa jurnalis tidak benar-benar sebebas angin.

Pijakanku goyah. Aku mengalah pada deras air langit yang menghujaniku hingga basah dan bingung. Aku mundur selangkah, kurang banyak, aku mundur hingga berlangkah-langkah. Tumit kakiku menjejak onggokan batu bernama analisa. Bagaimana jika aku menjadi seorang analis? Dan aku memasuki dunia yang dulu sama sekali tidak terpikirkan olehku.

Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI, itu tempatku merenangi dunia ilmu, kini. Program studi Komunikasi Media. Nadhiar Alfikra, lahir di Lampung 21 Februari 1990. Bukan nama asli. Kapan waktu Insya Allah saya posting nama asli saya. Terutama kalo blog ini udah bagus n bermutu isinya. Ini kan masih nyampah2 dulu lah. “Always be ‘a first’ for everything exist”