Nadh’zblog


Adaptasi, Sebuah Dinamika Perjalanan
November 22, 2008, 9:01 pm
Filed under: The Low Profile

Sepenggal kisah

Nama saya —— —– ——-, mahasiswa semester tiga program sarjana regular, departemen ilmu komunikasi FISIP UI. Ini adalah tahun kedelapan belas saya menjalani hari-hari yang unik. Dan menjadi semakin unik ketika saya berhasil menjadi bagian dari ’the big family of yellow jacket’.

Universitas Indonesia, bukanlah sebuah institusi pendidikan yang bisa dimasuki sembarang pelajar dalam perjalanannya menuju tingkat mahasiswa. Yang terbersit di kepala saya saat itu, adalah hanya orang-orang pilihanlah yang akan berhak menyandang gelar ’keramat’ sebagai mahasiswa Universitas Indonesia. Entah apa, mungkin saya pun tidak sepenuhnya sadar, ada semacam motivasi atau mungkin lebih tepat disebut obsesi yang menuntun saya untuk menyingkirkan berbagai pikiran negatif yang seringkali memutus nadi semangat seorang ’pejuang SPMB’. Sebegitu sakralnya nilai SPMB bagi saya dan mungkin juga bagi sebagian teman kita yang lain, sehingga siswa yang terkenal ’rajin cabut’ sekalipun rela berpagi-pagi membuka diskusi dan membayar mahal biaya les di bimbel-bimbel terkenal untuk mendapatkan gelar sebagai pemenang SPMB.

Saya sangat sadar saat itu, pasti tiap orang memiliki motivasi yang berbeda. Termasuk saya, saya yang sebelumnya belum pernah berprestasi yang memungkinkan orang menilai saya cukup cemerlang untuk menjadi bahan perbincangan di seputaran gosip anak SMA, misalnya ”ooohhh, pantas dia masuk UI, Anggun kan memang pintar, juara inilah, juara itulah…” kedengarannya saya memang sekadar mimpi untuk menembus passing grade komunikasi UI, salah satu macan ilmu sosial universitas ini.

Tampaknya perjuangan panjang berbekal doa kami, saya dan orang-orang terkasih, membuahkan hasil yang manis. Tuhan berkata jadi maka jadilah, maka jika Ia berkata lulus, lulus pulalah kita. Ternyata cerdas memang bukan semata-mata faktor penetu Anda bisa lulus atau tidak. Ia hanya satu partisi kecil dari sejuta faktor yang mengantarkan kita ke pintu keberhasilan.

Sebuah Tantangan

Di manapun manusia berada, dirinya tidak lepas dari hakekat perubahan yang konsisten terhadap jalannya waktu. Saya ingat perkataan seorang bijak ” hal yang tidak pernah berubah dalam hidup adalah perubahan itu sendiri”. Singkat, padat, dan sarat dengan pesan moral penyemangat diutamakan bagi mereka yang terbilang sulit beradaptasi.

Menurut saya, adaptasi adalah proses yang harus dialui dalam mempelajari etika kehidupan yang sebagian besar tersembunyi dibalik tabir interaksi, seperti fenomena gunung es mungkin. Etika yang dimaksud tidak hanya menyangkut peranan sosial, cara bergaul, nilai yang dianut kebanyakan, budaya setempat, tetapi juga menyangkut berbagai dimensi tak kasat mata bahkan dimensi yang sulit untuk diverbalisasikan. Bagi saya pribadi, adaptasi dapat diartikan sebagai keadaan di mana manusia belajar untuk menyesuaikan perilaku, prinsip yang dianut, dan sejenisnya, untuk menjadikannya selaras dengan apa yang riil di masyarakat atau lingkup sosial tertentu. Adaptasi adalah sebuah tantangan yang takkan terelakkan selama ambisi, obsesi, motivasi, harapan, mimpi, dan keyakinan masih deras mengalir dalam nadi perjuangan seseorang. Jika Anda merasa butuh, maka Anda harus siap bernegosiasi dengan apapun, pada saat apapun. Jika Anda bersedia bernegosiasi, maka bersiaplah pula untuk mengakomodasi, itu tentu jika Anda menginginkan pola adaptasi yang nyaman. Kecuali jika konflik memang tak lagi mungkin untuk dihindarkan, sikap fight sesekali boleh menjadi pilihan, itupun jika Anda masih ingin bertahan untuk bersikap maklum atas keadaan.

Hari-hari pertama usai pengumuman SPMB saya habiskan dengan segunung rasa khawatir. Saya berasal dari Lampung, dan sebagai anak daerah, memasuki wilayah seberang pulau terutama di UI sendiri kadangkala menimbulkan ketakutan tersendiri. Adalah diantaranya rasa khawatir tidak mampu eksis, biaya kuliah yang relatif tidak murah, dunia baru di mana nafas hedonismenya telah tercium dari radius ratusan kilometer, bahkan saya yang supel sekalipun masih latah mempertanyakan akan mampukah saya beradaptasi di lingkungan yang kondisinya masih rabun saya petakan. Dan diantara hal paling meragukan terkait dengan adaptasi yang saya alami, adalah seberapa hebatkah daya tahan saya menghadapi lingkungan yang dalam bayangan saya terlihat begitu individualis. Padahal selama ini, saya adalah saya yang lebih nyaman bertanya daripada mencari arah jalanan di peta. Awalnya, saya terus berpikir akan bagaimana hidup kedepannya saya jalani. Tetapi rupanya, yang namanya waktu tidak diperuntukkan sekadar menghitung-hitung kecemasan, atau untuk dihabiskan mempertimbangkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Ia dan rekan sekerjanya, kehidupan, hanya diciptakan untuk dijalani. Karena tiap kali satu langkah ke kedepan telah diambil, maka cakrawala akan semakin jauh dipenghujung penglihatan. Sementara kecemasan akan membuat batas pandang kita jadi tersegmen dan kehilangan fokusnya. Pada saat seperti ini, berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan berlangsung sesuai garis takdirnya menjelma menjadi pegangan tak terlihat yang menguatkan saya untuk melawat segenap rasa takut. Ya, karena cakrawala pandang tak pernah akan sampai tepat di depan mata kita. Ia jauh, maka melangkahlah, dan takkan pernah mendekat sekalipun diri mengambil jutaan langkah.

Hari pertama periode registrasi saya habiskan untuk menjelajah sebagian wilayah UI. Niat awalnya kemari untuk registrasi, berlanjut dengan ritual mengurus advokasi beasiswa yang memakan waktu lama. Dan sorenya, saya divonis tidak kebagian kamar di asrama.

Kemudian, berdasarkan kebijaksanaan pihak asrama, satu dari dua gedung baru yang dibangun untuk mahasiswa putra, digunakan sementara sebagai kamar tamu putri. Kami diizinkan menempati gedung tersebut sampai OSPEK dinyatakan selesai saat akhir bulan agustus kala itu.

Tiap kamar di gedung baru itu dirancang khusus untuk tiga orang. Dengan fasilitas kamar yang serba tiga. Tempat tidur tiga, meja belajar tiga, bantal tiga, juga satu set lemari pakaian berwarna cokelat dengan tiga pintu. Hari pertama di asrama saya habiskan sendiri di kamar itu. Teman sekamar saya baru akan pindah esok atau lusa harinya. Harusnya tiap kamar diisi tiga orang, tetapi yang terdaftar di kamar itu baru dua orang. Saya dan seorang lagi yang berasal Medan. Beberapa hari kemudian, kamar ini terasa ramai. Ya, sekarang tiga orang dinyatakan resmi menjadi penghuni tempat itu hingga sebulan kedepan. Uniknya, baru sekali itu saya bertemu_dan berteman baik_ dengan dua gadis Medan, yang satu berdarah batak dan yang satunya padang, tapi keduanya berjilbab dan sangat senang bercerita dengan heboh.

Hari-hari unik terasa nikmat di tengah kesibukan ospek yang melelahkan. Tiap hari, tiap malam, tiap bertemu ada saja bahan obrolan. Bukan mengobrolnya yang disorot di sini, tapi kami dari daerah yang berbeda, dan mereka sukses membuat saya tertawa tiap kali logat khas Medannya terbawa. Saya seperti sedang kursus bahasa Medan. Berbagai kosakata baru mampir ke kamus saya. Dan hari-hari berat terasa menyenangkan tiap kali saya sadar, di sini saya tidak sendirian. Ada teman, ada tempat berbagi, ada gurauan yang menghapus penatnya waktu, ada logat khas dan bahasa daerah ayng biasa kami sebut ’bahasa planet’. Dan spontan mereka akan menjawab ”planet bumi donk!”

Yang seperti ini membuat otak serasa di refresh. Mungkin di luar sana banyak sentakan yang kita hadapi, culture shock yang tak habis-habis. Inilah konsekuensi ketika Anda menjadi seorang yang ’tidak biasa’, andai kemarin saya memilih untuk menjadi ’biasa’ di universitas ’biasa-biasa saja’ di daerah saya, tentu sebagian besar hal yang saya alami pun biasa-biasa saja. Dahulu dengan sadar saya ambil pilihan ini, maka secara sadar saya pun harus menerima konsekuensi, yang jujur sebagiannya sudah bukan rahasia umum lagi, kesulitan adaptasi misalnya.

Satu hal yang saya catat dengan cermat dalam memori saya. Asrama mahasiswa memberi saya akses yang besar untuk mempelajari berbagai macam budaya yang berbeda. Sesekali ketika saya berada di tengah komunitas mahasiswa Medan, telinga bahkan lidah saya menjadi akrab dengan sekelumit budaya mereka. Kata semacam ’kau’, ’tak tahulah aku’, ’acem lah_bagaimanalah’, ’dasar ko’, ’lucu’ kalee’, dan sebagainya ikut mewarnai obrolan yang sebenarnya muatannya polos-polos saja. Adakalanya saya berada di tengah komunitas jawa-kebumen-tegal-gresik-kediri, logat mereka tak urung membuat pendengarnya tersenyum geli. Beruntungnya, di Lampung banyak orang menggunakan bahasa jawa, sehingga walaupun sedikit saya bisa menangkap percakapan mereka. Yah, walau tak urung harus bertanya kanan kiri mengenai arti beberapa hal tentunya.

Tapi apapun itu, itu menjadi semacam kenangan yang lekat dan tak tergantikan. Karena setiap orang adalah unik, tiap budaya dan tiap peristiwa juga unik. Adaptasi di awal menjadi mahasiswa baru mengenalkan kami pada dunia yang penuh dengan warna. Heterogenitas tingkat tinggi, yang kadang justru menumbuhkan persaudaraan terutama di antara kami, anak-anak daerah. Kami yang datang dari macam-macam daerah, yang kebetulan punya banyak teman satu sekolah, ataupun yang benar-benar datang sendiri. Tapi di sini kami sama, kami satu, dan kami belajar banyak hal tentang makna ’apa itu adaptasi’ dan ’apa itu berbagi’.



Pagi Dunia..!!!
November 22, 2008, 8:06 am
Filed under: The Low Profile

Tidak ada yang menghalangi seseorang dari suatu jalan selain takdir Tuhan dan kesunggguhan.

Satu hal yang saya temukan di tengah kerikil perjalanan saya, bahwa ketika diri sungguh2 menginginkan sesuatu. Tunggulah saat alam ini mendukung anda dengan caranya…

Bukan pagi hari saya menulis ini. Tapi pagi yang saya maksud adalah awal dari perkenalan saya dengan sebuah jalan. Jalan meluaskan sayap ke dunia yang lebih berwarna.

Salam untuk semua yang rela tidak rela, terpaksa nyasar maupun sengaja nyari, selamat datang di rumahrakyat, sebuah mimpi untuk kontribusi yang lebih sempurna!!!