Nadh’zblog


Adaptasi, Sebuah Dinamika Perjalanan
November 22, 2008, 9:01 pm
Filed under: The Low Profile

Sepenggal kisah

Nama saya —— —– ——-, mahasiswa semester tiga program sarjana regular, departemen ilmu komunikasi FISIP UI. Ini adalah tahun kedelapan belas saya menjalani hari-hari yang unik. Dan menjadi semakin unik ketika saya berhasil menjadi bagian dari ’the big family of yellow jacket’.

Universitas Indonesia, bukanlah sebuah institusi pendidikan yang bisa dimasuki sembarang pelajar dalam perjalanannya menuju tingkat mahasiswa. Yang terbersit di kepala saya saat itu, adalah hanya orang-orang pilihanlah yang akan berhak menyandang gelar ’keramat’ sebagai mahasiswa Universitas Indonesia. Entah apa, mungkin saya pun tidak sepenuhnya sadar, ada semacam motivasi atau mungkin lebih tepat disebut obsesi yang menuntun saya untuk menyingkirkan berbagai pikiran negatif yang seringkali memutus nadi semangat seorang ’pejuang SPMB’. Sebegitu sakralnya nilai SPMB bagi saya dan mungkin juga bagi sebagian teman kita yang lain, sehingga siswa yang terkenal ’rajin cabut’ sekalipun rela berpagi-pagi membuka diskusi dan membayar mahal biaya les di bimbel-bimbel terkenal untuk mendapatkan gelar sebagai pemenang SPMB.

Saya sangat sadar saat itu, pasti tiap orang memiliki motivasi yang berbeda. Termasuk saya, saya yang sebelumnya belum pernah berprestasi yang memungkinkan orang menilai saya cukup cemerlang untuk menjadi bahan perbincangan di seputaran gosip anak SMA, misalnya ”ooohhh, pantas dia masuk UI, Anggun kan memang pintar, juara inilah, juara itulah…” kedengarannya saya memang sekadar mimpi untuk menembus passing grade komunikasi UI, salah satu macan ilmu sosial universitas ini.

Tampaknya perjuangan panjang berbekal doa kami, saya dan orang-orang terkasih, membuahkan hasil yang manis. Tuhan berkata jadi maka jadilah, maka jika Ia berkata lulus, lulus pulalah kita. Ternyata cerdas memang bukan semata-mata faktor penetu Anda bisa lulus atau tidak. Ia hanya satu partisi kecil dari sejuta faktor yang mengantarkan kita ke pintu keberhasilan.

Sebuah Tantangan

Di manapun manusia berada, dirinya tidak lepas dari hakekat perubahan yang konsisten terhadap jalannya waktu. Saya ingat perkataan seorang bijak ” hal yang tidak pernah berubah dalam hidup adalah perubahan itu sendiri”. Singkat, padat, dan sarat dengan pesan moral penyemangat diutamakan bagi mereka yang terbilang sulit beradaptasi.

Menurut saya, adaptasi adalah proses yang harus dialui dalam mempelajari etika kehidupan yang sebagian besar tersembunyi dibalik tabir interaksi, seperti fenomena gunung es mungkin. Etika yang dimaksud tidak hanya menyangkut peranan sosial, cara bergaul, nilai yang dianut kebanyakan, budaya setempat, tetapi juga menyangkut berbagai dimensi tak kasat mata bahkan dimensi yang sulit untuk diverbalisasikan. Bagi saya pribadi, adaptasi dapat diartikan sebagai keadaan di mana manusia belajar untuk menyesuaikan perilaku, prinsip yang dianut, dan sejenisnya, untuk menjadikannya selaras dengan apa yang riil di masyarakat atau lingkup sosial tertentu. Adaptasi adalah sebuah tantangan yang takkan terelakkan selama ambisi, obsesi, motivasi, harapan, mimpi, dan keyakinan masih deras mengalir dalam nadi perjuangan seseorang. Jika Anda merasa butuh, maka Anda harus siap bernegosiasi dengan apapun, pada saat apapun. Jika Anda bersedia bernegosiasi, maka bersiaplah pula untuk mengakomodasi, itu tentu jika Anda menginginkan pola adaptasi yang nyaman. Kecuali jika konflik memang tak lagi mungkin untuk dihindarkan, sikap fight sesekali boleh menjadi pilihan, itupun jika Anda masih ingin bertahan untuk bersikap maklum atas keadaan.

Hari-hari pertama usai pengumuman SPMB saya habiskan dengan segunung rasa khawatir. Saya berasal dari Lampung, dan sebagai anak daerah, memasuki wilayah seberang pulau terutama di UI sendiri kadangkala menimbulkan ketakutan tersendiri. Adalah diantaranya rasa khawatir tidak mampu eksis, biaya kuliah yang relatif tidak murah, dunia baru di mana nafas hedonismenya telah tercium dari radius ratusan kilometer, bahkan saya yang supel sekalipun masih latah mempertanyakan akan mampukah saya beradaptasi di lingkungan yang kondisinya masih rabun saya petakan. Dan diantara hal paling meragukan terkait dengan adaptasi yang saya alami, adalah seberapa hebatkah daya tahan saya menghadapi lingkungan yang dalam bayangan saya terlihat begitu individualis. Padahal selama ini, saya adalah saya yang lebih nyaman bertanya daripada mencari arah jalanan di peta. Awalnya, saya terus berpikir akan bagaimana hidup kedepannya saya jalani. Tetapi rupanya, yang namanya waktu tidak diperuntukkan sekadar menghitung-hitung kecemasan, atau untuk dihabiskan mempertimbangkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Ia dan rekan sekerjanya, kehidupan, hanya diciptakan untuk dijalani. Karena tiap kali satu langkah ke kedepan telah diambil, maka cakrawala akan semakin jauh dipenghujung penglihatan. Sementara kecemasan akan membuat batas pandang kita jadi tersegmen dan kehilangan fokusnya. Pada saat seperti ini, berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan berlangsung sesuai garis takdirnya menjelma menjadi pegangan tak terlihat yang menguatkan saya untuk melawat segenap rasa takut. Ya, karena cakrawala pandang tak pernah akan sampai tepat di depan mata kita. Ia jauh, maka melangkahlah, dan takkan pernah mendekat sekalipun diri mengambil jutaan langkah.

Hari pertama periode registrasi saya habiskan untuk menjelajah sebagian wilayah UI. Niat awalnya kemari untuk registrasi, berlanjut dengan ritual mengurus advokasi beasiswa yang memakan waktu lama. Dan sorenya, saya divonis tidak kebagian kamar di asrama.

Kemudian, berdasarkan kebijaksanaan pihak asrama, satu dari dua gedung baru yang dibangun untuk mahasiswa putra, digunakan sementara sebagai kamar tamu putri. Kami diizinkan menempati gedung tersebut sampai OSPEK dinyatakan selesai saat akhir bulan agustus kala itu.

Tiap kamar di gedung baru itu dirancang khusus untuk tiga orang. Dengan fasilitas kamar yang serba tiga. Tempat tidur tiga, meja belajar tiga, bantal tiga, juga satu set lemari pakaian berwarna cokelat dengan tiga pintu. Hari pertama di asrama saya habiskan sendiri di kamar itu. Teman sekamar saya baru akan pindah esok atau lusa harinya. Harusnya tiap kamar diisi tiga orang, tetapi yang terdaftar di kamar itu baru dua orang. Saya dan seorang lagi yang berasal Medan. Beberapa hari kemudian, kamar ini terasa ramai. Ya, sekarang tiga orang dinyatakan resmi menjadi penghuni tempat itu hingga sebulan kedepan. Uniknya, baru sekali itu saya bertemu_dan berteman baik_ dengan dua gadis Medan, yang satu berdarah batak dan yang satunya padang, tapi keduanya berjilbab dan sangat senang bercerita dengan heboh.

Hari-hari unik terasa nikmat di tengah kesibukan ospek yang melelahkan. Tiap hari, tiap malam, tiap bertemu ada saja bahan obrolan. Bukan mengobrolnya yang disorot di sini, tapi kami dari daerah yang berbeda, dan mereka sukses membuat saya tertawa tiap kali logat khas Medannya terbawa. Saya seperti sedang kursus bahasa Medan. Berbagai kosakata baru mampir ke kamus saya. Dan hari-hari berat terasa menyenangkan tiap kali saya sadar, di sini saya tidak sendirian. Ada teman, ada tempat berbagi, ada gurauan yang menghapus penatnya waktu, ada logat khas dan bahasa daerah ayng biasa kami sebut ’bahasa planet’. Dan spontan mereka akan menjawab ”planet bumi donk!”

Yang seperti ini membuat otak serasa di refresh. Mungkin di luar sana banyak sentakan yang kita hadapi, culture shock yang tak habis-habis. Inilah konsekuensi ketika Anda menjadi seorang yang ’tidak biasa’, andai kemarin saya memilih untuk menjadi ’biasa’ di universitas ’biasa-biasa saja’ di daerah saya, tentu sebagian besar hal yang saya alami pun biasa-biasa saja. Dahulu dengan sadar saya ambil pilihan ini, maka secara sadar saya pun harus menerima konsekuensi, yang jujur sebagiannya sudah bukan rahasia umum lagi, kesulitan adaptasi misalnya.

Satu hal yang saya catat dengan cermat dalam memori saya. Asrama mahasiswa memberi saya akses yang besar untuk mempelajari berbagai macam budaya yang berbeda. Sesekali ketika saya berada di tengah komunitas mahasiswa Medan, telinga bahkan lidah saya menjadi akrab dengan sekelumit budaya mereka. Kata semacam ’kau’, ’tak tahulah aku’, ’acem lah_bagaimanalah’, ’dasar ko’, ’lucu’ kalee’, dan sebagainya ikut mewarnai obrolan yang sebenarnya muatannya polos-polos saja. Adakalanya saya berada di tengah komunitas jawa-kebumen-tegal-gresik-kediri, logat mereka tak urung membuat pendengarnya tersenyum geli. Beruntungnya, di Lampung banyak orang menggunakan bahasa jawa, sehingga walaupun sedikit saya bisa menangkap percakapan mereka. Yah, walau tak urung harus bertanya kanan kiri mengenai arti beberapa hal tentunya.

Tapi apapun itu, itu menjadi semacam kenangan yang lekat dan tak tergantikan. Karena setiap orang adalah unik, tiap budaya dan tiap peristiwa juga unik. Adaptasi di awal menjadi mahasiswa baru mengenalkan kami pada dunia yang penuh dengan warna. Heterogenitas tingkat tinggi, yang kadang justru menumbuhkan persaudaraan terutama di antara kami, anak-anak daerah. Kami yang datang dari macam-macam daerah, yang kebetulan punya banyak teman satu sekolah, ataupun yang benar-benar datang sendiri. Tapi di sini kami sama, kami satu, dan kami belajar banyak hal tentang makna ’apa itu adaptasi’ dan ’apa itu berbagi’.



Pagi Dunia..!!!
November 22, 2008, 8:06 am
Filed under: The Low Profile

Tidak ada yang menghalangi seseorang dari suatu jalan selain takdir Tuhan dan kesunggguhan.

Satu hal yang saya temukan di tengah kerikil perjalanan saya, bahwa ketika diri sungguh2 menginginkan sesuatu. Tunggulah saat alam ini mendukung anda dengan caranya…

Bukan pagi hari saya menulis ini. Tapi pagi yang saya maksud adalah awal dari perkenalan saya dengan sebuah jalan. Jalan meluaskan sayap ke dunia yang lebih berwarna.

Salam untuk semua yang rela tidak rela, terpaksa nyasar maupun sengaja nyari, selamat datang di rumahrakyat, sebuah mimpi untuk kontribusi yang lebih sempurna!!!



Chatting bareng Tuhan
December 16, 2008, 5:32 pm
Filed under: cOret2aN

Ngopi lagi dari milis ARC, posted by Dasril

TUHAN :
Kamu memanggilKu ?

AKU :
Memanggilmu?
Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN :
Ini TUHAN.
Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

AKU :
Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa
lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN :
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU :
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN :
Benar sekali.
Aktivitas memberimu kesibukan.
Tapi produktivitas memberimu hasil.
Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.

AKU :
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku
chatting seperti ini.

TUHAN :
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan
memberimu beberapa petunjuk.
Di era Internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang
lebih nyaman untukmu daripada mimpi misalnya.

AKU :
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu
rumit?

TUHAN :
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

AKU :
Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa
senang?

TUHAN :
Hari ini adalah Hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU :
Tapi bagaimana mungkin Kita tidak khawatir jika Ada begitu
banyak ketidakpastian.

TUHAN :
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU :
Tapi begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN :
Rasa sakit tidak bisa dihindari,
Tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU :
Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu
menderita?

TUHAN :
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan..
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik tidak dapat melewati rintangan, tanpa
menderita.
Dengan pengalaman itu hidup mereka menjadi lebih baik,
bukan sebaliknya.

AKU :
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN :
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU :
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

TUHAN :
Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan
kekuatan mental.
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan
dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

AKU :
Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak
tahu kemana harus melangkah…

TUHAN :
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu
kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu
terjaga.
Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.

AKU :
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.
Apa yang dapat saya lakukan?

TUHAN :
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan
daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran
dengan waktu.

AKU :
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap
termotivasi?

TUHAN :
Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu berjalan,
daripada masih berapa jauh kamu harus berjalan.
Selalu hitung yang harus kamu syukuri, jangan hitung apa
yang tidak kamu peroleh.

AKU :
Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN :
Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”.
Jika mereka bahagia, tidak Ada yang pernah bertanya
“Mengapa harus aku?”

AKU :
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di
sini?

TUHAN :
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi
apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses
penciptaan.

AKU :
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup
ini?

TUHAN :
Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

AKU :
Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN :
Tidak Ada DOA yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

AKU :
Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN :
Oke.
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk
diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

………TUHAN has signed out



Nadh’z
December 16, 2008, 5:11 pm
Filed under: Kesehatan, Psikologi, Religi

Aku menamai diriku Nadhiar Alfikra. Sebuah samaran dari nama asli yang tidak kalah indah artinya. Hanya saja yang ini lebih pendek, dinamis, misterius, dan kuat. Itu aku. Warna dasarku adalah putih, karena kejujuran adalah asas pertama yang selalu ingin aku genggam. Lalu tumpahlah cat berwarna-warni. Pendarannya menghadiahiku gradasi dan kompleksitas warna yang overlap, kadang. Kadang cerah, kadang gelap, kadang kabur, kadang cemerlang.

Langkah kakiku menjadi mantap di atas kanvas yang telah dahulu kupulas merah. Memberanikan diri untuk mengejar sesuatu yang lebih. Yang belum pernah aku alami, belum aku temui, tanah yang masih perawan, belum terjejak oleh kakiku yang rentan.

Nadiku masih penuh dengan gelora. Tak ayal maka, manakala lidahku mengungkap bahasa, kalian temui bara di sana. Membakar, bergelora.

Pikiranku berkeliaran dengan liarnya. Pada sudut yang tak terjangkau oleh tangan ini. Menjalari tiap jengkal tembok gunung es di tengah samudera, menyentuh sesuatu yang tidak mampu aku definisikan dengan bahasaku yang minim terminologi.

Aku cinta biru, merah, putih, abu2, hitam, cokelat, dan semua warna yang ada. Mulai dari yang bertitel dark hingga yang terkenal dengan light. Aku menghargai perbedaan, karena aku percaya, perbedaan itu sunnatullah. Sesuatu yang dengan bangga aku lukiskan dengan satu tag line, Unity in Diversity.

“The soul would have no rainbow, if the eyes had no tears.”

Pepatah Indian yang begitu dalam menyesaki tiap rongga tubuhku, yang menyetujuinya dalam satu anggukan. Pernahkah terpikirkan betapa sehat itu indah jika belum pernah raga ini menjajal luka, merasai sakit, mengiris kecewa dengan sembilu yang menikam mata, menjatuhkan tetes demi tetes. Yang kita kenal dengan tangis. Seandainya manusia hanya kenal satu dimensi waktu, sekarang, mana mungkin tercantum di kamus kita, kata ‘evaluasi’, merenung mencari apa yang salah dan melalui mana kita mampu mengadakan perbaikan.

Tidak akan sama penghayatan seorang pemimpin yang besar dalam buaian tahta kemilauan, dengan anak negeri yang besar dalam dinginnya malam. Yang mimpinya nyaman berselimutkan harapan mentari esok bersinar terang. Tidak akan sama penghayatan seorang pemimpin yang merancang visi berdasarkan egoisme dan asa pribadi, dengan pemimpin yang melahirkan visi dari rahim kepekaan akan apa yang rakyatnya jeritkan setiap helaan, yang mengeja misi yang dengannyalah rakyat berbicara kelak, suara yang selama ini dibungkam. Ditutup dengan todongan ancaman, dengan tudingan kegalauan. Tidak akan pernah sama.

Dunia ini cermin bagi siapa yang ingin melihat kejernihan ciptaan. Coba renungkan, kepedulian apa yang hendak disuarakan dari dapur rekaman kampanye, jika seumur hidup menjejak di pemukiman kumuh rakyatnya saja ia tidak berani. Banyak cacing katanya.

Melebar, ciri khas seorang ‘aku’ tiap kali bicara….

Banyak orang seumuranku saat itu memupuk citanya menjadi dokter. Kelas 4 SD, aku bilang, aku ingin jadi politikus. Ketika semua ingin jadi kaya, aku ingin melihat dunia yang belum kujamah dengan pandangku, aku ingin jadi astronot, menelusur jejak benturan bintang. Masih berkutat dengan mimpi mereka menjadi dokter, menyusul satu dua varian, menjadi apoteker. Aku lagi-lagi memikirkan hal lain, menjadi entrepreneur dengan banyak anak perusahaan yang menggerakkan roda perekonomian_yang nota bene carut marut karena krisis saat itu, dan membuka lapangan kerja hingga banyak orang bisa makan dengan layak. Kembali aku menjajal batas imajinasiku, aku menghitung kemungkinan menjadi developer. Yang aku pikirkan bukan nilai proyek. Tapi aku ingin mengerjakan proyek yang aku rancang dan aku danai dengan keringatkui sendiri. Memimpikan sebuah pemukiman muslim, yang sarat fasilitas ramah lingkungan, yang tata letaknya memungkinkan interaksi sosial yang intens, dengan sungai jernih mengalir diantaranya. Banyak anak sungai, bukan satu.

Pemukiman yang tanpa sampah, yang selalu punya pengetahuan lebih untuk dibagi antar penghuninya. Di mana adzan berkumandang dengan sejuk, buah yang ranum,ditanam oleh dan untuk umat. Di mana bisnis bebas riba dan kapitalisasi berkembang dengan pesat. Dapur mengepul di setiap rumah, jikapun pergi ke restoran atau rumah makan, sajiannya dipastikan halal dan bergizi. Sebuah lingkungan yang tidak kenal istilah junk food, kecuali dari tontonan media dan mulut orang2. Darah yang bebas polusi, dengan lapangan parkir di ujung gerbang terluar “Kampung Muslim”_nama pemukiman ini, sudak kurancang sejak SMA. Hanya pejalan kaki dan sepeda yang bebas berkeliaran di lingkungan dalam.

Tempat yang subur untuk menyemai kreativitas. Karena di Kampung Muslim setiap orang berhak menjual karyanya. Daur ulang menjadi tren. Sampah organik menjadi pupuk, setiap orang gemar menanam pohon kebaikan. Ada taman dengan rumput di tiap pelataran rumah, tempat bocah2 duduk, membaca dan mengenali dunia dari pintunya yang paling istimewa, buku.

Ahhh… sungguh, jamuan mimpi yang membuatku betah berlama-lama mengkhayal.

Beranjak lagi usia, aku tertarik pada profesi jurnalis. Independen, bebas bersuara, mengokohkan idealisme. Tapi satu kalimat menyadarkanku dari lamunan, bahwa jurnalis tidak benar-benar sebebas angin.

Pijakanku goyah. Aku mengalah pada deras air langit yang menghujaniku hingga basah dan bingung. Aku mundur selangkah, kurang banyak, aku mundur hingga berlangkah-langkah. Tumit kakiku menjejak onggokan batu bernama analisa. Bagaimana jika aku menjadi seorang analis? Dan aku memasuki dunia yang dulu sama sekali tidak terpikirkan olehku.

Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI, itu tempatku merenangi dunia ilmu, kini. Program studi Komunikasi Media. Nadhiar Alfikra, lahir di Lampung 21 Februari 1990. Bukan nama asli. Kapan waktu Insya Allah saya posting nama asli saya. Terutama kalo blog ini udah bagus n bermutu isinya. Ini kan masih nyampah2 dulu lah. “Always be ‘a first’ for everything exist”



Dorothy Law Nolte
December 16, 2008, 4:57 pm
Filed under: Uncategorized

“kalau seorang anak hidup dengan kritik,
Ia akan belajar menghukum.
Kalau seorang anak hidup dengan permusuhan,
Ia akan belajar kekerasan.
Kalau seorang anak hidup dengan olokan,
Ia akan belajar menjadi malu.
Kalau seorang anak hidup dengan rasa malu,
Ia akan belajar merasa bersalah.
Kalau seorang anak hidup dengan dorongan,
Ia akan belajar percaya diri.
Kalau seorang hidup dengan keadilan,
Ia akan belajar menjalankan keadilan.
Kalau seorang anak hidup dengan ketenteraman,
Ia akan belajar tetang iman.
Kalau seorang anak hidup dengan dukungan,
Ia akan belajar menyukai dirinaya sendiri.
Kalau seorang anak hidup dengan penerimaan serta persahabatan,
Ia akan belajar mencintai dunia.”
_Dorothy Law Nolte_



Yang ter….
November 22, 2008, 9:18 pm
Filed under: Uncategorized

Hal yang Paling ….. di Dunia

Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 = ” Orang tua ”
Murid 2 = ” Guru ”
Murid 3 = ” Teman ”
Murid 4 = ” Kaum kerabat ”
Imam Ghazali = ” Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat
dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang
bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Negeri Cina ”
Murid 2 = ” Bulan ”
Murid 3 = ” Matahari ”
Murid 4 = ” Bintang-bintang ”
Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar
adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita
tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus
menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan
perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

Iman Ghazali = ” Apa yang paling besar didunia ini ?”
Murid 1 = ” Gunung ”
Murid 2 = ” Matahari ”
Murid 3 = ” Bumi ”
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah
HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu
kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

IMAM GHAZALI” Apa yang paling berat didunia? ”
Murid 1 = ” Baja ”
Murid 2 = ” Besi ”
Murid 3 = ” Gajah ”
Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG
AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan
malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi
khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya
berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia
masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”

Imam Ghazali = ” Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin ”
Murid 3 = ” Debu ”
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan
sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita
atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “

Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? ”
Murid- Murid dengan serentak menjawab = ” Pedang
Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini
adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya
menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “

ngutip dari :

http://www.ukhuwah.or.id/dr/node/280



Tentang Pudil…
November 22, 2008, 9:02 pm
Filed under: Nyanyian Rumput

Bismillahirrahmaanirrahiim…..

Sabtu, 15 November 2008

Sedih. itu yang nggun rasa sekarang Allah… inget sama blog yang kosong. jadi pingin ngejadiin curhatan kucing ini ssbg postingan pertama di rumahrakyat. Allah lebih kenal nggun daripada diri nggun sendiri. tentang kesra, lama-lama nggun ngerasa mungkin memang ini tempat yang cocok untuk perangai nggun yang idealis dan negosiabel.

nggun nggak pernah nggubris kalo ad aide berantas kucing. karena dari dulu itu Cuma wacana. tapi hari ini dengan prakarsa forkat 08_calon, kesra pula yang memang sudah sepantasnya melakukan ini dari dulu, merelokasi kucing2 kesayangan nggun keluar asrama. awlanya mau ke hutan deket pasming, tapi Alhamdulillah yang bawa nggak kuat, jadilah ditaro di hutan belakang pus pusat ui.

pudil Allah. kucing nggun yang amat nurut, nggak rese, diam, gemuk, berwarna kuning putih terang dan gempal. kucing pertama nggun yang bener2 nggun sayang. yang kapan waktu nggun pulang, pudil lari dari ujung lorong jemputin nggun. nggun masih inget momen itu Allah. pudil yang kepingin banget masuk kamar nggun. pudil yang hari2 terakhirnya di sini nggak bisa nggun temenin. bahkan nggun baru sempet mandiin pudil dua kali selama ini. pudil udah nggak di sini sekarang Allah.

nggun jarang kasih pudil makan. tapi di asrama meski sering berantem pudil punya stok makan yang lebih dari cukup. di pus pusat, paling lari ke kantin fasilkom ama fib. Allah,,, plisss,,,, kasih makan pudil manakala ia lapar, selimuti ia dengan hangat yang hanya bisa diwakili kata cinta, dengan cintaMu. teduhkan awan baginya, jauhkan ia dari dingin dan basah seandainya Kau ketahui itu menyulitkannya.

terima kasih untuk pinjaman selama ini. Allah begitu baik menghadiahkan pudil di tengah sesko yang padat dan p3a yang mendesak. ada pudil tidur di keset depan kamar ku dan dila. terus menghilang berapa hari begitu aku kembali ke kamarku. pudil yang terus menunggu, meski aku jarang pulang. pudil yang kemudian tak menemukanku ada, pergi, berjalan, ditemukan, ditangkap, dan dipindahkan, tanpa sempat aku mandikan.

Allah itu kucing nggun yang paling bagus, paling nurut, dan paling nggun sayang. dia memang nggak lincah, tapi dia gemuk, dia adalah komoditas kebanggaan tiap kali temen2 ke kamar. kucing yang nggak kabur kalo nggak nggun kasih makan. pudil punya banyak makan di sini.

Allah, bolehkah aku ke surge. permintaanku saat ini andai nanti Kau beri aku tempat di surga, aku ingin pudil menjadi penjaga kamarku. menemaniku tanpa aku perlu khawatir kena toksoplasma atau najis. pudil belum pernah tidur di atas selimutku. tapi dia selalu, dengan begitu setianya, menggaruk2 kusen pintuku, rindu masuk, mencicipi kasurku. aku rindu pudilku. Allah jagalah pudil jika bagiMu ia baik. tanganku tak lagi mampu menjangkaunya. mungkin sebentar lagi pikiran ini beralih darinya. maka sekarang, di kala ku masih mengenangnya dalam ingatku, kumohon pada Engkau yang melindungi hamba yang beruntung mengenalMu, lindungi ia juga. temani ia, temani mereka, kami manusia Cuma berusaha membuka peluang kemanfaatan yang sebesar2nya. aku belajar untuk rela. meninggalkan apa yang aku cinta. karena semua memang fana. pasti terpisah, lindungi kami ya Allah. yang betemu dan berpisah karenaMu. karena kami harus berjuang demi rakyat asrama. menembus kabut dilematis yang bertahta di kedalaman hati kami. kami berserah kepada Engkau. tetapkanlah kesabaran dalam hati kami. beri kami ruang untuk terus bersyukur. dan ajarilah kami untuk terus memilih jalan yang Allah cinta, bukan kami cinta.



Aku, Mimpi, dan Guru
November 22, 2008, 8:49 pm
Filed under: Nyanyian Rumput

Depok, 21 November 2008

mengenang perjuangan bareng kak Rio dan kawan-kawan

Aku, Mimpi, dan Guru

Aku menoleh

setelah tinggi aku mendaki

gunung yang dahulu menyentuhnya pun, aku hanya mimpi

Lalu aku melihat siluet yang bergradasi

mengguratkan wajah yang menemaniku mengukir mimpi

di balik pelataran asa

menuju hari yang perkasa

puncak pendakian kami tinggi menjulang

begitu jauh dari jangkauan

kami akan terus berjalan

menggiring harapan ke hadap sebuah gerbang

tujuan

entah waktu akan terhenti di mana

entah sampai mana kekuatan ini Tuhan sertakan

Entah di belah mana bumi langkah kami akan merah tertatih

kini, di mata kami Cuma ada asa, mimpi, harap, cita, apapun orang menyebutnya

serta keberanian

kami tengok lagi hari yang libas dengan cepatnya

masih wajah yang sama

semangat dengan bara yang sewarna

yang membimbing jari-jari lemah

menemukan sebutir keberanian di tengah jiwa yang menggigil

yang mengajari aku cara menyemai seonggok kehidupan

Karena hidup yang sesungguhnya

dimekarkan oleh semerbak wewangian harap

naïf mungkin

tapi dasar sadarku memaknai semburat mimpi dengan pemaknaan yang agung

percaya aku pada kekuatan di balik tunas harapan

melebihi pengalaman sekian mil, aku berjalan

telah pernah aku buktikan

yang dulu kita kenali sebagai tantangan

kuatlah, beranikan jiwa yang rapuh

badai apapun akan mampu diri taklukkan

raga, pikir, rasa, segenap alam akan menopang

manakala benar tekad dipancangkan

rahasia yang terkubur ribuan tahun

dan hanya tergali beberapa kali

dan hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar ingin mewujudkan

onggokan mimpi, titian harapan

lihatlah apa yang sudah tumbuh di balik tumpuk jerami

di mana engkau wahai Guru

yang dengamu lah Tuhan membimbing aku

mengais cinta di keringnya setapak dan alang

cinta akan perjuangan

juga penerimaan atas takdir yang hanya dipasrahkan setelah kaki letih melangkah

tak ada istirahat dalam perang

dan nyata bahwa hidup adalah perang yang tak kunjung usai

dan engkau mengajakku memandang dari atas

keseluruhan untuk dipecahkan

bukan sekelumit untuk dirisaukan

aku belajar bernapas dalam sesak

engkau ajar kami mengembangkan paru dengan sehat

kami belajar meletakkan asa di panggung dunia

engkau berdiri di belakang kami

mengatakan, satu hari, di panggung tempat kami letakkan cuilan asa

akan tertoreh tinta emas sejarah yang tak terbantah

saat itu begitu abstrak untuk diungkap dengan kata kami yang terbatas

bilangan waktu pun habis untuk mengenang

asa yang kami simpan belum jadi sejarah

namun, tunas yang engkau semai

kini terus tumbuh bercabang-ranting

abaikan hambat, menjajal jadi besar

kamilah, yang di sini menerobos tanah dengan berani

meski akar kami lemah

kamilah tunas itu wahai guru pelajaran mimpi

ingatkah engkau?

ingatlah, karena kini kami berkembang menjadi sangat indah